Saturday, March 02, 2024

BERDAMPINGAN DENGAN DEPRESI


Aku cukup terbuka dengan kesehatan mental-ku di sosial media, tapi mungkin aku gak pernah benar-benar menjelaskan bagaimana rasanya hidup dengan depresi dan anxiety. Tujuanku membagikan pengalamanku ini (semoga) bisa meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental. Masih banyak orang yang kurang memerhatikan kesehatan mental karena "tidak terlihat". Hanya karena tidak kasat mata, bukan berarti tidak penting, ya. 

Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Aku bersyukur sekarang di Indonesia, pandangan masyarakat tentang kesehatan mental sudah lebih luas, well sudah seharusnya begitu. Toh topik kesehatan mental bukanlah sesuatu yang tabu. Semua orang seharusnya sedikit banyak paham tentang ini, bukan hanya orang-orang yang didiagnosa saja. Gak sedikit orang-orang yang struggle dengan kesehatan mental merasa malu dan takut untuk dihakimi, takut disebut gila, takut disebut stress. Siapa sih sekarang yang gak stress? Aku rasa semua orang punya stress-nya masing-masing. Semua punya beban yang perlu dipikul.


Ini juga salah satu alasanku kenapa aku memilih untuk memendam semuanya sendiri. I knew there's something wrong when I was 13. Pada saat itu, keluargaku sedang tidak baik-baik saja, aku menjadi korban perundungan di sekolah, dan aku tidak baik pada diriku sendiri dengan menyibukkan diriku dengan belajar yang berlebihan. Awalnya yang terasa memang hanya sedih dan lelah, lambat laun aku semakin sulit untuk bangun dari tempat tidur, aku tidak lagi bergairah untuk melakukan hal-hal yang aku suka. Aku stress berat, tidak merasa nyaman di rumah, begitupun di sekolah. Membayangkan untuk pergi ke sekolah, mengikuti pelajaran-pelajaran yang tidak lagi menyenangkan buatku, belum lagi dirundung, sudah membuatku ingin muntah. Tapi, tinggal di rumah pun bukan pilihan. Setiap hari aku harus menyeret diriku untuk bangun dari tempat tidur, memasang topeng ceriaku. I was a great pretender

Dadaku selalu berdegup kencang setiap aku sudah mendekati sekolah, begitu pula ketika hampir sampai rumah. Skenario-skenario buruk yang biasanya memang terjadi, mulai bermunculan di kepalaku. Semakin dekat dengan tujuan, semakin kencang dan membuatku sesak napas dan berkeringat dingin. Aku tahan semuanya, karena kupikir, itu akibat situasi di rumah dan di sekolah sedang tidak baik-baik saja.

Hari berubah menjadi minggu, menjadi bulan, kemudian tahun. For years, I felt everything and nohing at the same time. Tapi di tahun-tahun itu, aku tetap menjadi aku, at least yang terlihat dari luar. Aku tetap berprestasi di sekolah, tetap pergi ke sekolah, tetap ikut les, tetap masuk sekolah favorit, masuk ke salah satu universitas terbaik di Indonesia. 

Akhir tahun 2010, aku didiagnosa memiliki GERD. Berkali-kali dirawat di rumah sakit, minum obat terus menerus, mengubah pola makan dan gaya hidupku. Sampai akhirnya pertengahan 2011, aku bisa hidup secara normal, tapi deep down, I didn't feel normal at all.

Tahun 2012, aku merasa semakin memburuk. Aku benar-benar kehilangan minat pada hal-hal yang aku sukai. I've stopped living. I was simply just existing. Aku merasa aku berhenti hidup. Hanya mencoba untuk melewati hari-hariku, seolah menunggu untuk sesuatu tetapi aku gak tahu apa yang aku tunggu. Di saat yang bersamaan, aku juga takut pada hal yang aku tunggu itu.

Pada tahun itu, aku mencoba mengomunikasikan dengan pacarku pada saat itu. Aku masih ingat, dia bilang, "ah, kamu cuma capek aja. Gak usah lebay, bersyukur kamu tuh orang kaya, hidup bisa enak. Ke mana-mana dianter jemput supir, liat tuh orang lain, buat makan aja susah." Aku cuma bisa senyum. Pada saat itu aku belum paham kalau apa yang dilakukan pacarku itu adalah mengecilkan perasaanku. He belittle me. He invalidated my feelings. 

Berbulan-bulan kemudian, aku merasa semakin memburuk. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mencari jawabannya di Google. I know, self diagnosed is bad tapi aku bersyukur aku melakukan itu. Aku kaget karena semua gejalaku masuk di kategori depresi menurut beberapa website kesehatan. Gak puas, akhirnya aku bolos kuliah dan pergi ke rumah sakit sendiri. Aku gak punya ekspektasi apapun selain I need to know.

Setelah melewati proses yang panjang, mulai dari konsultasi dengan internist-ku dulu (karena jujur, aku gak tahu harus ke mana), tes darah dan sebagainya, akhirnya aku dirujuk ke psikiater. Disitulah aku mendapat jawaban dari segala pertanyaan-pertanyaan yang menghantuiku bertahun-tahun.

Clinical depression and anxiety disorders.

Ketika dokterku menyebutkan diagnosaku, aku cuma melongo. Memang, aku sering dengar soal depresi dan anxiety dari membaca novel dan menonton film atau series. Tapi, TAPI, ketika mengalami itu sendiri, aku benar-benar bingung. Masa sih?

"Tapi dok, aku gak mengurung dan mengisolasi diri sendiri. Aku tetap aku, aku pergi sekolah, aku makan, aku beraktivitas seperti biasanya. Aku bahkan masih sempat mengukir prestasi,"

Dokterku mengangguk, "Itu namanya high functioning depression, kamu terlihat bahagia dan normal dari luar, tetapi sebenarnya kamu itu depresi dan gak ada yang tahu, bahkan kamu sendiri pun gak sadar. Ini juga bisa menjadi salah satu penyebab GERD, stress yang berlebih. Asam lambungmu naik." 

Depresi itu bukan hanya mengurung diri di kamar, murung, sedih, tetapi bisa juga terlihat normal. Depresi bisa terlihat seperti orang yang receh dan mudah tertawa, orang yang aktif berkegiatan, berprestasi, pergi sekolah atau kerja seperti layaknya. Depresi itu bisa berpura-pura baik-baik saja. Depresi bukan hanya karena permasalahan di rumah, di hubungan percintaan atau pertemanan, but simply shit happened

Lalu hidup terasa lebih berat, dengan banyaknya hal yang terjadi dalam kehidupan personalku. Selain berjuang melawan depresi dan anxiety, aku juga harus melawan abusive relationship yang benar-benar menghancurkan harga diriku. Kemudian kehilangan orang-orang yang berperan penting dalam hidupku. Kesulitan mencari pekerjaan. Pandemi. Seolah semua aspek kehidupanku hancur. Rasanya aku sudah tidak punya tujuan hidup. I felt hopeless

Aku lelah hidup dibayang-bayangi langit gelap. Muak dengan telingaku yang berdengung seolah ribuan lebah ada di telingaku. Jemu menahan sakit dada dan perut melilit. 

Fast forward ke pertengahan tahun 2021, aku mulai melakukan self harm dengan mencubiti dan menampar diri sendiri dan melakukan percobaan bunuh diri yang pertama. Beberapa bulan kemudian, percobaan yang kedua. Lalu aku mulai cutting dan mencoba lagi bunuh diri sampai kali keempat. Tahun 2022, aku akhirnya jujur pada orang tuaku. Kalau sebelumnya aku berjuang sendirian, saat itu aku sudah didampingi oleh orang tua dan adikku. Tentunya dengan bantuan profesional juga ya!

Perjuanganku hidup berdampingan dengan depresi dan anxiety itu pasang surut. Some days are harder than others. Ada hari di mana aku merasa sangat baik-baik saja, tapi ada juga hari di mana aku benar-benar gak bangun dari tempat tidur sama sekali. 

I feel everything and nothing at the same time.

Satu hal yang aku pelajari yaitu belajar memaafkan diri sendiri. Sering sekali aku menyalahkan diriku atas hal yang menimpaku. I was a kind person to others, even to people who hurt me, but I was never kind to myself. Baru hampir dua tahun belakangan, aku merasa hubunganku dengan diri sendiri membaik. Aku mulai mendengarkan apa yang aku mau, aku meminimalisir self judgement  dan berusaha semampu sebaik yang aku bisa untuk menyukai apa yang aku lihat di cermin.

Sekarang hari-hari baikku semakin banyak, tidurku lebih baik, dan semakin ringan untuk bangun dari tempat tidur untuk memulai hari. Walaupun begitu, aku gak mau memaksakan diriku. Aku gak mau relapse. Untuk mencapai titik ini, aku berjuang keras. Mulai dari minum obat secara rutin, terapi, meditasi, dan banyak hal yang aku lakukan untuk kembali melihat warna-warna. 

My healing journey is not easy, but I know it's gonna be worth it. 

Untuk kamu yang sedang berjuang, peluk jauh dariku. Aku tahu gak mudah untuk melalui hari-harimu, but I can promise you one thing, it will get easierYour trauma is not you. The state of your mental health is not you. They are only part of your story, they don't define you. You can always start a new chapter and start fresh. Jangan menyerah, ya. Kamu pasti bisa melalui hari-harimu. 

Please, jangan takut untuk meminta pertolongan. Entah itu pada orang-orang yang kamu percaya atau meminta bantuan profesional, apapun itu, ask for help. You are not alone

Semoga perjalanan sembuhmu membaik dan lebih mudah setiap langkahnya.

Share:

No comments

Post a Comment

Blogger Template Created by pipdig