BALI (I)
Hi!
Kalau sebelumnya aku memilih untuk gak mengumbar tempat tinggalku sekarang, setelah hampir setengah tahun tinggal di sini, akhirnya aku berani untuk terbuka.
Bali
Aku tinggal di Bali sejak akhir Oktober 2022.
Keputusanku untuk tinggal di Bali karena aku merasa aku gak lagi merasa nyaman dan aman tinggal di kota kelahiranku. Pemikiran untuk kembali lagi ke Australia bukan hanya terbersit tapi sudah aku rencanakan, namun rencana hanyalah sebuah rencana. Banyak hal yang membuat kembali ke Australia tidak memungkinkan untuk saat ini, salah satunya kesehatan mentalku.
Aku berjuang melawan clinical depression, anxiety, eating disorders dan suicidal. Aku mencoba berkali-kali untuk bunuh diri. Bukan hanya tidak sehat secara mental, secara fisik pun aku tidak sehat. Setelah mulai stabil, barulah aku memutuskan untuk pindah ke tempat yang setidaknya masih jauh tapi tidak terlalu jauh dari keluargaku.
Jadi, bagaimana keadaanku sejak pindah ke Bali?
Memilih Bali menjadi tempat tinggal adalah keputusan yang tepat. Bukan hanya membaik secara fisik, aku pun lebih sehat secara mental perlahan-lahan.
Aku menemukan pekerjaan yang sesuai dengan passion-ku. Tempat kerja yang luar biasa positif, suportif, dan memberiku ruang untuk berkembang. Di sini juga aku dikelilingi dengan rekan kerja yang bisa berpikiran terbuka. Setiap pagi saat bangun tidur, aku selalu bersemangat untuk pergi kerja. Selama di tempat kerja pun waktu berlalu cepat saking menikmati setiap waktunya.
Lalu, aku pun bertemu dengan salah satu teman lama-ku. Kami dekat sejak akhir 2018 lalu, teman sharing. Terakhir kali aku bertemu dengannya yaitu awal tahun 2019 di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai - saat itu aku baru saja pulang dari Australia, transit overnight di Bali sebelum terbang ke Bandung esok paginya. Sejak saat itu, aku gak pernah bertemu lagi dengannya walaupun keep in touch melalui whatsapp. Sempat gak mengobrol lama karena aku menghilang dari semua media sosial - that deepest pit of depression hole. Singkat cerita, he is my partner now. He makes me feel loved and protected. He shows me that love is not pain.
Sekarang, aku perlahan kembali ke sosial media. Berani muncul di publik, mengunggah kegiatan sehari-hari, foto diri sendiri, dan hal-hal yang aku suka lagi. Walaupun aku meminimalisir untuk menonton insta story orang lain, khawatir melihat hal yang bisa triggering.
Selama hampir 6 bulan tinggal di Bali, aku menikmati setiap waktunya. Gaya hidup yang sesuai dengan keinginanku dan aku rindukan (mirip dengan gaya hidupku di Australia), mengobrol dengan orang-orang baru dan mereka yang berpikiran terbuka, create new stories and memories yang suatu harinya mungkin akan aku ceritakan (kalau aku memilih) pada anak-anakku.
Yang paling penting adalah aku menemukan diriku lagi. Walaupun masih ada hari-hari di mana aku sulit untuk melihat refleksi diriku di cermin, benci melihat perutku yang tidak rata atau lengan dan pahaku yang besar, tapi aku selalu bisa kembali berdiri tegap dan bilang 'I'm enough'.
Kalau beberapa tahun lalu aku menemukan "kepuasan" saat memuntahkan makanan setelah makan, sekarang aku senang pergi ke tempat-tempat baru untuk mencoba makanan yang aku suka atau makanan baru. I feel less guilty to eat. I finally found love again.
Aku percaya ini adalah awal untuk hidup dan kebahagiaan yang pantas aku dapatkan.
Ya Allah ganyangka teteh pernah ada diposisi se depresi itu. Stay healthy di Bali ya teh, semoga selalu diberi kebahagiaan di sana. Semoga ada juga bisa sekuat teteh, bisa survive dari rasa trauma. Big love 🤗
ReplyDelete