SETELAH MENIKAH, PEREMPUAN ITU...
Beberapa waktu lalu, aku pernah mengunggah pertanyaan di Instagram tentang perubahan yang kamu rasakan setelah menikah (foto insta story ada di bawah). Tulisan di bawah ini adalah jawaban teman-teman, baik teman dekatku maupun teman-teman yang bertemu di sosial media - juga jawaban Mim, my mum. Terima kasih teman-teman yang sudah mempercayaiku untuk berbagi pengalaman dan berdiskusi tentang menapaki bagian baru hidup kita menjadi seorang istri (dan juga Ibu bagi yang sudah menjadi orang tua). Terima kasih juga memperbolehkanku mengutip jawaban kalian dan menulisnya di blog ini!
First of all...
Menikah itu menyenangkan. Kamu bisa hidup dan membangun mimpi-mimpi, kehidupan, dan banyak belajar dari pasanganmu atau sekelilingmu. Kamu menjalani kehidupan dengan sahabatmu, orang yang tulus mencintai, menyayangi, dan menghargai kamu apa adanya tanpa ada kaitan darah. Pasangan itu idealnya adalah anggota terbaik dari tim kehidupan yang kamu punya. It's all about team work! It takes two sides to build the bridge dan dalam hal ini, jembatan yang sedang dibangun itu adalah kehidupan yang sedang kalian jalani bersama.
Your husband (or partner, spouse) should be your biggest supporter. Segala jenis dukungan datang dari dia.
They are your greatest love, your rock, your life companion, your soul mate.
Menikah itu seru! Banyak hal yang sebelumnya Aku gak pernah terpikir, hal-hal baru yang membuat aku bisa bilang 'oh gini ya rasanya nikah' atau 'enak ya punya suami', sampai 'kok baru sekarang sih? kenapa gak dari dulu aja!' daaan banyak lagi!! 😂
Tapi... Berumah tangga itu tidak selalu bahagia, pasti ada masa-masa yang terasa berat, menantang, bahkan sulit untuk dilalui. Life is not always roses and daisies, so does marriage.
Tujuanku menulis post ini untuk teman-teman perempuan, khususnya para istri, supaya tidak merasa sendirian. Apapun yang kamu rasakan, ada banyak orang di luar sana yang merasakan apa yang kamu rasakan juga. Apa yang kamu lakukan sudah lebih dari cukup. Kamu sudah melakukan apa yang kamu bisa, semaksimal mungkin. Don't be too hard on yourself, this is our first time to be a human.
Setelah menikah, perempuan itu...
Menjadi tamu di rumah orang tua sendiri, orang lain di rumah orang tua suami.
Punya orang yang bisa diandalkan.
Memiliki label 'Istri Pak...' dan hanya dikenal dengan nama itu.
Dunia semakin mengecil - fokusku jadi punya quality time dengan suami.
Belajar toleransi dan menurunkan ekspektasi - pasangan hidup tidak ada yang sempurna.
Terbantu secara finansial, tidak lagi pusing memilih antara bayar listrik dan skincare.
Tidak punya me-time, kehidupanku berputar mengurus anak dan masak.
Harus berkorban dengan ego diri sendiri - untuk jadi ibu itu memang harus dalam keadaan udah siap karena memang mental kita diuji harus bisa mengalah demi anak, dan mengorbankan waktu untuk diri sendiri.
Harus pintar membagi waktu dan mengurus keuangan - Suamiku tipe yang ingin tahu beres segalanya.
Selalu salah di mata mertua - rasanya kok apapun yang aku lakukan tidak pernah cukup buat beliau ya?
Melihat tanggung jawab, cinta, dan waktu dari perspektif yang berbeda - dulu hanya diri sendiri, tapi sekarang belajar untuk menjadi pasangan yang hadir, mendukung, dan tumbuh bersama.
Menjadi istri dan ibu mengajariku untuk lebih sabar, lebih kuat, dan lebih ikhlas - seperti bertumbuh setiap hari.
Disayang mertua dan ipar, bahkan mereka lebih sayang aku ketimbang keluargaku sendiri.
Belajar memahami dan memaklumi kalau suami itu tidak dibesarkan dan tumbuh dikeluarga yang sama sepertiku.
Banyak mengalah - prioritas bergeser menjadi anak, suami, baru diriku bahkan mungkin banyak hal lain dulu baru aku.
Tidak boleh capek apalagi sakit - kalau aku sakit dan cuma diam di tempat tidur, siapa yang mengurus anak, rumah dan suami?
Menemukan cinta yang baru - setelah menjadi Ibu, aku baru tahu kalau aku bisa mencintai seseorang sebesar aku bisa mencintai anakku.
Tidak semua perempuan memiliki pengalaman yang sama, setiap cerita pasti ada perbedaan. Perubahan yang aku rasakan setelah menikah adalah aku belajar mencintai dan menerima cinta yang aku dapat dari suamiku. Aku belajar memahami pola pikir dan pendapat dia, menyelaraskan dengan pola pikir dan pendapatku supaya kami menemukan titik tengah yang adil untuk masing-masing. Aku juga belajar mencintai diriku sendiri lebih baik lagi supaya aku bisa mencintai suamiku sebagaimana mestinya.
For all women out there, please remember to fill your own cup.
You're doing great, you're enough, and you're your own person.
PS: Aku yakin para suami pun punya cerita yang mereka ingin bagikan dan aku yakin proses belajar dan bertumbuh ini bukan hanya dialami oleh kami para istri, tapi suami juga.
Semua masa-masa berat, menantang, atau sulit dalam kehidupan berumah tangga itu tidak akan selamanya. Semoga semua yang membaca tulisan ini, baik yang belum menikah, memilih untuk tidak menikah, sudah menikah atau akan menikah dipertemukan dengan pasangan yang bisa membawa kebahagiaan, selamanya menemani dan sama-sama berusaha dan berjuang untuk menyelesaikan kerikil yang sedang (atau akan) dihadapi, membela dan memperjuangkanmu, dan bukan menyengajakan diri memberimu beban yang berat untuk dihadapi.
No comments
Post a Comment