Monday, September 09, 2019

MOVIE | GUNDALA (2019) - SPOILER REVIEW

Copyright Screenplay Films
Gundala adalah film pertama dari Jagat Sinema Bumilangit atau Bumilangit Cinematic Universe (BCU) yaitu jagat sinema pertama di Indonesia! Lahir dari komik ciptaan Hasmi, Gundala akhirnya diangkat ke layar lebar oleh Joko Anwar, salah satu sutradara kesukaanku! Aku belum pernah baca komiknya karena jujur saja, aku bukan penggemar komik. Sekarang justru bingung juga kalau mau baca komik, di mana aku bisa membeli komik yang lahir di tahun 1969?

Untuk ulasan kali ini, aku sengaja membuat spoiler review karena banyak sekali yang ingin aku bahas terkait dengan cerita asal Gundala, peran dia di jagat sinema Bumilangit, dan potensi film dan karakter yang akan datang.

Jadi, kalau kalian belum nonton Gundala, jangan baca ulasan ini ya! Tapi kalau kalian gak masalah sama spoilers, let's get started! 

Sama seperti film-film pada umumnya, Gundala memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak ada film yang sempurna, kan? Sebenarnya, kelebihan dan kekurangan sebuah film bisa juga bersifat subjektif dan tergantung dari genre film yang kalian sukai. Sebagai contoh, aku tidak suka film yang mengandung banyak kekerasan, gore movie is not my thing. Tapi, untuk hal-hal tertentu aku bisa memaksakan nonton film tersebut karena misalnya aku suka dengan aktor-aktrisnya, sutradaranya, atau karena aku sudah membaca bukunya (kalau film adaptasi). Jadi, apa yang aku tulis disinipun belum tentu semua orang setuju ya. 

Let's start with things that really work in this movie

Copyright Screenplay Films
Pengenalan Sancaka (Abimana Aryasatya) sebagai pemeran utama difilm ini menurutku salah satu pengenalan terbaik dari sekian film-fim superhero yang sudah tayang. Secara umum, salah satu yang terbaik dari semua film bahkan. Kenapa? Kita tahu siapa dia, dari keluarga apa dia berasal, siapa orang tuanya, bagaimana dia kehilangan orang tuanya, dan kita tahu kelemahannya. Hal-hal dasar seperti itu terjawab dengan alur cerita yang maju. Biasanya, alur cerita maju untuk superhero origin bisa jadi membosankan. Tapi, kerjasama antara sutradara dan pemeran utama membuat kita tetap tertarik untuk menonton. Character development Sancaka juga kuat. Dari seorang anak yang ditinggal orang tuanya, berjuang sendiri di tengah beratnya hidup di jalanan sampai menjadi seseorang yang bisa menghidupi dirinya sendiri, Sancaka bertumbuh dan berkembang menjadi patriot bagi dirinya sendiri dulu. Ingat kilasan-kilasan mimpi buruk Sancaka? Itu adalah trauma yang dia alami, his depression and anxiety, yang dia lawan sendiri tanpa bantuan orang lain. Kemudian dia mendapatkan kekuatan ini dan dia juga figured everything out sendiri. 

Salah satu adegan kesukaanku dari bagian pertama film ini adalah ketika Sancaka kecil (Muzakki Ramdhan) bertemu dengan Awang kecil (Fariz Fadjar) kemudian mereka berlatih pencak silat. Kenapa aku suka sekali dengan adegan ini? Pertama, pencak silat! Itu adalah seni bela diri asli dari Indonesia. Para aktor muda ini pun bagus sekali ketika berlatih silat, they choreograph really well! Rasanya seperti melihat mereka menari. Kedua, chemistry Sancaka dan Awang bagus banget. Aku melihat figur kakak dengan rasa tanggung jawab dalam diri Awang, sementara Sancaka yang merasa aman ketika bersama Awang. This is such a beautiful friendship! Kalau Sancaka gak pernah ketemu Awang, mungkin Sancaka gak akan pernah belajar bela diri. 


Selain pengenalan sang patriot, aku juga suka cara mereka mengenalkan villain di film ini. Pengkor (Bront Palarae) adalah bos mafia yang punya ratusan bahkan ribuan anak-anak, begitu pasukannya disebut. Cara film ini membangun karakter Pengkor itu buatku keren ya, karena dia gak pernah melakukan hal-hal jahat itu dengan tangannya sendiri tapi dia menyuruh orang lain do the dirty things. Dia otak dari kejahatannya! Buatku, villain seperti ini adalah yang terkuat dalam film-film bergenre superhero. 

Nah, di film ini kan di bagian ketiga diperlihatkan kalau Pengkor itu di tembak oleh Ridwan Bahri (Lukman Sardi) dia meninggal atau enggak? Menurutku enggak. Kalau kamu baca biografi setiap karakter di website-nya Bumilangit, hampir semua bilang Pengkor adalah musuh utama mereka. Masa sudah gugur di film pertama? 

Lebih dari dua karakter utama tersebut, aku juga suka dengan karakter-karakter pendukung seperti Pak Agung (Pritt Timothy) yang membawa komedi dalam cerita. Karakter Pak Agung ini seolah merepresentasikan masyarakat pada umumnya. Siapa sih yang bisa percaya kalau ada orang tersambar petir masih hidup dan justru jadi kuat? Siapa sih yang percaya sama keberadaan superhero di masa modern ini? Tapi di saat yang bersamaan, Pak Agung juga jadi salah satu dari sekina motivasi besar Sancaka percaya pada dirinya sendiri. Karakter pendukung seperti ini yang melengkapi sebuah film menjadi suatu kesatuan walaupun masa hidup karakter tersebut mungkin tidak lama ya. 

Gundala menjadi titik awal yang bagus untuk jagat sinema Bumilangit. Kemunculan Gundala sebagai patriot pertama di Indonesia membangkitkan semangat superhero yang lainnya seperti Sri Asih (Pevita Pearce) yang muncul sepersekian menit di film ini, sampai Sancaka/Gundala saja gak sadar loh! Yang aku lihat, Sri Asih sepertinya sudah lama menjadi superhero atau dia sudah lama menyadari kekuatan yang ada dirinya karena ketika membantu Gundala, dia tidak terlihat kebingungan apalagi ragu. Dan dia langsung menghilang! Kemudian di mid-credit scene, Nani Wijaya (alias Sri Asih) terlihat memperhatikan Gundala dari bawah ketika sang patriot sedang mengobrol dengan Ridwan Bahri di atap gedung. Kaki tangannya jelas sekali bilang, 'dia akan butuh bantuanmu' pada Nani. Ada dua kemungkinan, antara Sri Asih muncul nyaris bersamaan dengan Gundala atau Sri Asih sudah lama menjadi Sri Asih tapi membantu secara diam-diam. 

Selain munculnya superhero baru, villain baru yang sama kuatnya dengan Pengkor juga tentu akan bermunculan. Sebelum film ini berakhir, kita lihat kalau Ghani Zulham (Ario Bayu) membangunkan sosok yang dia sebut Ki Wilawuk (Sujiwo Tejo) yang entah bagaimana kepala dan tubuhnya terpisah dan membatu seperti itu. Ghazul bilang kalau salah satu musuh utama Ki Wilawuk sudah muncul namun dia belum tahu siapa dirinya. Kemudian Ki Wilawuk bertanya, 'siapa?' dan Ghazul menjawab 'Gundala'. Aku merepresentasikan percakapan ini bahwa Ki Wilawuk dan Gundala memang sudah tertuliskan dalam sebuah ramalan or something like that kalau mereka akan bertarung suatu hari nanti. Ini bakalan jadi pertarungan seru karena as we expected, Ki Wilawuk itu seperti datang dari legenda. We'll see! Oh iya, Ghazul mengingatkanku pada Loki (Tom Hiddleston) di MCU and I totally love that kind of trickster villain ;)

In terms of storyline, aku merasa film ini cukup bagus untuk pembuka jagat sinema. Konflik yang disuguhkan film ini pun lumayan berat karena kalau kalian lebih teliti lagi, film ini bukan semata-mata ingin mengedepankan sejahat apa Pengkor, tapi juga menyentil politik di Indonesia. Aku gak mau bahas terlalu jauh soal politik karena gak ingin jadi sok tahu, but I sense that the director wants us to reliaze how messy the politics and social behaviour in our country because of greediness and the thirst of the throne. Pengkor justru pengalihan saja, I think

Kemudian serum amoral. Tahukah kalian kalau sebenarnya ini hanya hoax? Iya, memang ibu-ibu hamil pada sakit, tapi gak bikin janin mereka cacat dan amoral juga. Ingat kata-kata Pengkor? 'rakyat harus terus bodoh biar aman dan mudah diatur.' Cara dia membodohi rakyat adalah dengan menciptakan serum amoral ini. Dia ingin menjadi Tuhan bagi semua masyarakat Indonesia, bukan hanya untuk anak-anaknya. So he created this chaotic situation. Dia juga ingin membodohi para politikus, he wants them under his control. Tapi... balik lagi, ini gimana kalian menarik benang merahnya ya. This is what I pulled. For me, Pengkor wants the throne, he wants to be God. He doesn't want amoral people, he fooled people because he knows people are easily to be fooled. Orang akan menghalalkan segala cara supaya menjadi sebuah prioritas. Ingat tiga orang bapak-bapak yang menyogok petugas supaya para istri mereka diinjeksi serum lebih dulu? They don't care about moral. They are pretentious, selfish, people. Kalau mereka merasa punya moral, seharusnya mereka tetap berada diantrean dan sabar menunggu giliran, ya kan? Jadi, moral itu apa sih?

Sementara untuk directing dan production wise, luar biasa sih. Aku bisa membuat berlembar-lembar betapa bangganya aku karena akhirnya Indonesia punya jagat sinema sendiri dengan superhero asli Indonesia, dari komik Indonesia dan terlebih lagi, membawa sejuta budaya dan kearifan lokal Indonesia. Aku selalu suka film-film Joko Anwar, gak peduli genre horor atau apapun itu, aku pasti tonton. Like I said, aku bisa memaksakan diriku nonton kalau sutradaranya aku suka. 

Di film ini, Mas Joko (semoga gak keberatan ya aku panggil gitu) membawa ciri khasnya. Seperti tone di film ini yang mostly earth tone, kemudian detail pada setiap adegan dan banyak hal-hal yang cukup tersembunyi tapi bisa jadi hint untuk film yang akan datang atau punya makna tersendiri. Latar dalam film ini pun bagiku gak terlalu jelas ini Jakarta ya, karena pertama, kita gak pernah tahu mengambil latar waktu kapan. Dilihat dari mobil, pakaian, dan bangunan, aku merasa ini bukan Jakarta di masa sekarang. Sementara dunia politik yang disentil itu masa-masa sekarang. Seolah mereka bikin zona waktu sendiri and I really don't mind! Itu kan yang namanya jagat sinema? Punya dunia dan waktu sendiri tanpa harus relate dengan saat ini? 

Selain itu banyak juga hal-hal yang terlihat kecil tapi mungkin punya makna besar di film ini. Seperti di mid-credit scene, kita melihat lampu hias yang menempel di dinding ada dua, berbentu petir dan mawar. Artinya apa? Petir merepresentasikan Gundala, karena kekuatannya datang dari petir. Juga hint film selanjutnya, Gundala: Putra Petir. Sementara mawar merepresentasikan Sri Asih. Seperti yang kita tahu, mawar adalah salah satu bunga yang paling cantik dan anggun tapi juga berduri. Aku rasa, sebagai seseorang yang gak pernah baca komiknya so gak tahu apapun soal Sri Asih, karakter superhero perempuan pertama Indonesia ini adalah seseorang yang lembut tapi juga kuat, bahkan berbahaya in a good way. She's gonna be a very delicate woman with a strong, dangerous power

Oh iya, ingat waktu Sancaka memperbaiki headphone milik Tedi, adik Wulan, apa lagu yang terdengar? Kelam Malam! Rasanya gak bisa ya kita tuh terlepas dari Ibu, Mas! Nice try ;) 


Membuat superhero franchise itu gak mudah apalagi kita sekarang berada di era kejayaannya Marvel Cinematic Universe yang pasti, gak satu dua orang akan membandingkan. Yang aku kagum dari Jagat Sinema Bumilangit adalah dia gak berusaha mengimbangi MCU atau DCEU (is it still a thing?), tapi membuat citra diri sendiri dengan cara mereka sendiri. 


Now, let's talk about things that not really work on this movie.  


Copyright Screenplay Films
Aku ingin bahas character development beberapa tokoh di film ini yang bagiku kurang kuat. Pertama Wulan (Tara Basro). Seperti yang kita tahu, dia itu Wulan alias Merpati, yang nantinya akan menjadi superhero juga atau mungkin sidekick-nya Gundala. Tapi jujur, aku gak melihat Wulan sebagai seseorang yang berpotensi menjadi someone bigger than she is right now. Aku hanya melihat dia sebagai seorang aktivis, perempuan kuat yang punya pendirian kuat. I only see her as a good supporting character, not that is something bad about it but I want to see more of her power or at least, stronger in this movie. Aku bisa lihat kalau nantinya Sancaka dan Wulan jadi sepasang kekasih, I totally ship that tapi buat jadi superhero juga, mungkin belum terlihat di film ini ya? 

Kedua, motivasi Pengkor. Walaupun villain ini adalah salah satu villain yang kuat di jagat sinema. Origin story-nya pun cukup kuat, dia menjadi yatim piatu, dibuang ke panti asuhan, dan menyaksikan kekerasan yang dialami anak-anak di panti tersebut. So he became the brain of the rebellion. Tapi, motivasi Pengkor untuk menjadi seseorang yang jahat itu apa? More than his thirst of respect

Kemudian, aku juga merasa overwhelmed dengan kehadiran anak-anak Bapak alias Pengkor yang sebutlah prajuritnya Pengkor seperti Asmara Abigail, Kelly Tandiono, Aming Sugandhi, Cornellio Sunny, Hannah Al Rashid, Daniel Adnan, Ari Tulang, Cecep Arif Rahman, dan gak tahu siapa lagi. Kenapa overwhelming? Karena semua keluar di saat yang bersamaan! Aku suka cara mereka memperlihatkan jadi apa anak-anak asuhan Pengkor ini. Semuanya sukses, ya kan? Tapi aku gak punya waktu untuk mengenal mereka. I got it that Hannah Al Rashid is a surgeon now tapi apa kekuatan dia? Aku bahkan gak tahu nama mereka! Yang aku sort of understand itu hanya karakter yang diperankan oleh Cecep Arif Rahman, aku gak tahu siapa namanya so let's call him the dancer, dia jago bela diri dan ada sisi seni tarinya. Sangat unik, jelas. Kuat? Tentu. Atau karakter yang diperankan Ari Tulang, yang kekuatannya adalah ilusi. Aku merasa akan lebih baik kalau dua atau tiga saja yang dikeluarkan terlebih dahulu, terutama pada saat bertarung dengan Sancaka/Gundala. It doesn't make any sense that Sancaka as Gundala who only knew his power and sort of owns it while these people knew their powers their whole lives but still lost to one person

Film ini juga punya hal-hal yang menggantung. They're not bad, justru bikin penasaran dan semoga akan terjawab di film-film selanjutnya. 

1. Bagaimana Sri Asih dan Gundala akan bersekutu? Penasaran banget kan! I can see they're going to be great allies
2. Untuk apa darah Sancaka? Di salah satu adegan bertarung antara Sancaka (dengan masker malingnya) dengan para preman, salah saeorang dari mereka mengambil darah Sancaka. Buat apa? Di akhir film, kita tahu kalau ternyata darah itu untuk membangkitkan Ki Wilawuk. Tapi, masa sampai disitu saja? 
3. Kemana Awang? Ini mungkin yang membuatku penasaran banget. Kalau gak salah, Awang itu akan menjadi Godam (Chicco Jericho) nantinya. Dia naik kereta dan gak pernah kembali. Where did he go? Where is he now? 
4. Sepanjang film, kata Gundala hanya disebut satu kali oleh Ghazul ketika berbicara dengan Ki Wilawuk. Apa artinya Gundala? 

Overall, I love Gundala. Sesuatu yang fresh di dunia perfilman Indonesia. Terlebih kalian tahu segimana sukanya aku sama cinematic universe

Jadi, menurut kalian bagaimana film Gundala ini? 




Love, Vera 
Share:

No comments

Post a Comment

Blogger Template Created by pipdig