Saturday, June 01, 2019

MENCOBA BERNAPAS


Sudah hampir lima bulan sejak aku kembali ke kota kelahiran, kembali berkumpul dengan keluargaku. Aku kembali menata hidupku, sedikit demi sedikit menyelesaikan beberapa urusan lama yang aku tinggalkan ketika aku bertugas di Australia. Sudah mulai homesick, ingin pulang ke Melbourne. Hampir lima bulan juga aku tinggal di kota yang sama dengan abuser. Jadi, bagaimana kabarku? 

Aku benar-benar bersyukur bisa kembali berkumpul dengan keluargaku. Sudah beberapa kali kami sekeluarga berlibur bersama dan bahkan sudah merencanakan liburan selanjutnya. Rumahku dan rumah kakak-kakakku tidak terlalu jauh sehingga kami pun sering bertemu, sekedar makan siang atau menonton ke bioskop. Bersyukur sekali aku dianugerahi keluarga yang luar biasa supportive-nya. 

Aku senang sekali bisa sering hangout dengan sahabat-sahabatku, main ke mal kesukaanku, makan di restoran dan cafe yang sering aku kunjungi dan juga mencoba yang baru. Setiap minggu ada saja acara pergi dengan teman-teman, entah itu menonton ke bioskop, makan siang, atau bahkan hanya duduk di coffee shop untuk bertukar cerita satu atau dua jam. 

Sedikit demi sedikit aku pun mulai menyelesaikan pendidikanku, salah satu dari sekian yang menjadi alasanku untuk kembali ke Indonesia. Walaupun dalam proses pengerjaannya banyak sekali tantangan, aku berharap pendidikanku ini selesai tepat waktu supaya apa yang aku inginkan bisa berjalan sesuai rencana.

Namun, setiap harinya aku memiliki perasaan takut. Kalaupun bukan takut, itu adalah kekhawatiran dan kecemasan yang berlebih. Dulu, aku senang sekali pergi ke mal sendirian hanya untuk pergi membeli buku dan kemudian membaca atau menulis di coffee shop. Sekarang, untuk pergi ke depan kompleks saja aku takut. Rasanya setiap kali aku keluar rumah, ada yang menguntit. Padahal mungkin tidak ada. Terlebih ketika aku pergi sendirian, keringat dingin di tengkuk pasti bermunculan dan aku sulit bernapas.  

Aku secara konstan memiliki ketakutan untuk pergi keluar rumah. Aku takut diperjalanan akan bertemu dengan abuser. Aku takut dia akan menyakitiku lagi. Aku takut kalau aku tidak bisa membela diriku sendiri lagi.

Bagaimana rasanya ketika kamu sedang berlibur dengan keluarga kemudian jantungmu berdebar kencang, sulit bernapas dan penglihatanmu kabur? 

Bagaimana rasanya ketika kamu sedang pergi ke toko buku, mencari buku yang kamu sangat inginkan kemudian lututmu mendadak lemas dan telingamu berdengung? 

Bagaimana rasanya ketika kamu sedang tertawa dengan sahabat-sahabatmu kemudian tenggorokanmu tercekat dan ingatan buruk itu kembali? 

Adilkah ketika abuser hidup baik-baik saja ketika aku disini terseok-seok untuk menjalani hidupku? 

Aku tahu kok seharusnya aku mendoakan abuser supaya tidak mengulang kesalahannya pada orang lain, cukup aku saja korbannya. But I'm being completely honest and real here, would you pray for someone who ruined your life? I've lost too much to willingly send a good pray. 
Share:

No comments

Post a Comment

Blogger Template Created by pipdig