Friday, December 21, 2018

MENJADI BU VERA DI AUSTRALIA


Awal tahun 2018, aku terbang ke Australia dengan amanah menjadi seorang guru bantu atau language assistant di bawah pimpinan Department of Education and Training (DET) Victoria. Perasaan cemas akan memulai pekerjaan baru, tinggal dengan orang asing, dan bahkan, berbicara dalam bahasa asing. 

Namun, seluruh kecemasan dan kekhawatiran itu hanya ada di kepala. Ketika tiba di Ringwood tanggal 28 Januari, aku disambut oleh pelukan hangat Graham dan Donna Harris - yang kemudian menjadi orang tua Australia-ku. Sore itu aku di ajak berkeliling sekitar rumah, pergi ke taman, berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, dan bahkan kami bertiga makan es krim bersama. Sejak hari itu, hari-hariku di Ringwood selalu luar biasa.

Sebagai guru bantu, aku bekerja di dua sekolah, Ringwood Secondary College (RSC) dan Ringwood North Primary School (RNPS). Dua sekolah ini yang menjadi sebagian besar hidupku selama aku berada di Australia. Aku bekerja selama dua hari di RSC dan dua hari di RNPS, mulai dari pukul 9  pagi (namun aku selalu datang setidaknya pukul 8 pagi) sampai pukul 3.30 sore. 

Di RSC, aku belajar banyak hal tentang sistem pendidikan Australia yang sangat berbeda dengan Indonesia. Tidak hanya itu, aku juga belajar tentang etika bekerja, profesionalitas, dan cara membuat hubungan guru-murid yang terbilang sangat santai dan kasual namun tetap dihormati. Cara mengajar Bu Lundie yang selalu kreatif dan menyenangkan membuatku belajar kalau menjadi guru itu memang seharusnya bukan untuk ditakuti tapi dipahami. Siswa-siswa di RSC yang memiliki motivasi tinggi untuk belajar bahasa Indonesia juga membuatku merasa bangga dengan bahasa nasionalku. Bukannya mereka yang belajar dariku, justru aku yang merasa merekalah guru-guruku selama setahun ini. 

Bu Lundie 

Bu Martin
Sementara di RNPS, aku belajar banyak tentang dunia anak-anak dan cara mengajar. Sejak dulu, aku selalu suka anak-anak, menurutku mereka memiliki pemikiran yang lebih luas daripada orang dewasa. Cara mengajar Bu Rumble yang selalu mudah dipahami, lembut, dan menyenangkan membuatku termotivasi untuk lebih menyelami dunia pendidikan anak. Tidak hanya itu, aku juga belajar arti kekeluargaan dan penerimaan. Staf RNPS yang selalu ramah dan mengajakku bergabung dalam setiap kegiatan membuatku merasa sangat diterima dan dihargai. Siswa-siswa RNPS yang selalu bersemangat belajar. Anak-anak menggemaskan yang selalu menyapaku, memelukku setiap kali aku bertemu dengan mereka, bahkan  tidak jarang aku terlambat untuk makan siang karena mengobrol atau bermain dengan mereka dulu di playground. 

Bu Rumble
Bekerja menjadi seorang guru bantu ternyata tidak semenakutkan yang aku bayangkan. Aku rasa aku sangat beruntung karena memiliki Bu Lundie, Bu Rumble, dan Bu Martin yang selalu bersedia mendengarkan keluh kesah, menjawab segala pertanyaanku mulai dari pertanyaan konyol sampai pertanyaan paling serius yang pernah aku tanyakan. Mereka bertiga tidak membuat pekerjaanku ini sebagai beban, tetapi justru kesempatan untuk belajar dan menemukan semangatku. 

Jujur, sejak awal mengajar bukan passion utamaku. Namun, sejak bekerja bersama mereka, aku menjadi termotivasi untuk menjadi seorang pendidik yang baik, setidaknya ada keinginan untuk membuat perubahan yang berarti entah itu menjadi guru, konselor, atau penulis mungkin? 

Selama setahun penuh pelajaran hidup ini, aku merasa masih kurang. Aku merasa masih membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar lebih banyak lagi, membangun semangat, membangun mimpi-mimpiku. Lebih dari itu, aku merasa aku tidak cukup maksimal. Tahun 2018 bukanlah tahun yang mudah buatku, personal things that have happened were pulling me down. Jika saja aku bisa lebih baik lagi memisahkan antara masalah pribadi dan profesionalitasku, mungkin aku bisa melakukan lebih banyak hal untuk tempat-tempat kerjaku, mentor-mentorku, dan untuk diriku sendiri. 

Tapi, aku sangat bersyukur dengan apa yang tahun ini berikan padaku. Menjadi seorang guru bantu benar-benar mengubah hidupku. Tidak hanya sudut pandangku terhadap mengajar, tetapi untuk menjadi seseorang yang bisa bermanfaat bagi orang lain, dan juga orang yang bisa menghargai diri sendiri. 

Terima kasih Bu Rumble, Bu Lundie, dan Bu Martin. I couldn't do any of this without all your help and support. I'll be forever grateful for our friendship. This is not goodbye, it's until we meet again. 

Sampai jumpa! 

Salam sayang, Vera
Share:

No comments

Post a Comment

Blogger Template Created by pipdig