Wednesday, November 14, 2018

TERIRIS KATA

Cockatoo Island, Sydney, NSW.
"Dia memang tidak pernah memukulku, tapi dia membuatku merasa tidak berguna."

Ketika berbicara tentang kekerasan, orang akan secara otomatis berpikir tentang mendorong, memukul, mengguncang, menampar, menendang, dan sebagainya. Tidak banyak yang menyadari kalau kekerasan emosional sama bahayanya dengan kekerasan fisik. Aku bahkan jarang menemukan topik ini menjadi bahan pembicaraan orang banyak. Sebagian besar merasa kekerasan emosional itu tidak ada, sisanya menganggap itu fase dari sebuah hubungan. 

Kekerasan emosional (sering disebut juga kekerasan mental atau kekerasan verbal) seringkali diartikan sebagai fase pertengkaran atau emosi sesaat. Pertengkaran dan kekerasan emosional berbeda. Bertengkar dengan pasangan itu wajar, adanya perbedaan pendapat atau argumen, itu pertengkaran normal. Namun jika adanya bentakan, menggunakan kata-kata kasar, bahkan kata-kata yang seharusnya tidak pernah keluar dari mulut seseorang itu bukan lagi pertengkaran, itu kekerasan verbal.

Sebagian besar dari kita tahu ciri-ciri kekerasan fisik tapi kekerasan emosional cukup sulit untuk diketahui karena tidak terlihat maka dari itu sering diabaikan. Padahal kekerasan emosional berdampak sama - bahkan dalam beberapa kasus, lebih buruk daripada kekerasan fisik. Menurut Jim Hedges dalam Escape the Hidden Dangers of Emotional Manipulation, akibat dari kekerasan emosional adalah hilangnya harga diri, kepercayaan diri, trauma seperti PTSD, depresi, bahkan bunuh diri. 

Emotional abuse is isolating and manipulating your perspective, chiselling your self-worth. It is not incident, it is the meticulous and malicious breaking down of your perception of who you are until you are left feeling worthless, spent and useless. Emotional abuse it the murder of your soul. 

Korban kekerasan emosional biasanya tidak sadar kalau sudah menjadi target karena bentuk kekerasannya tidak terlihat. Bukan hanya perempuan, laki-laki pun bisa saja menjadi korban. It could happen to anyone, anytime, in any relationship

"Kamu itu beban hidup aku!" 
"Kamu gak layak diperjuangin!" 
"Kamu hanya buang-buang waktu aku." 

Mungkin kira-kira seperti itu kalimat-kalimat yang terdengar. Bagaimana rasanya membaca kalimat itu? It's not nice, isn't it? Bayangkan bagaimana rasanya mendengar kalimat-kalimat tersebut secara konstan?

Para korban biasanya tidak sadar karena beranggapan itu hanyalah fase dalam hubungan. Sehingga mereka pun biasanya akan lebih berhati-hati dalam bersikap, tidak sering mereka menghindari pertengkaran karena tidak ingin merusak suasana hati kekasih dan terlebih tidak ingin mendengar bentakan, teriakan, dan kalimat-kalimat kasar itu. Beberapa memberanikan diri untuk bilang pada pasangannya kalau mereka tidak suka dengan pilihan kata yang digunakan pasangan, mereka tidak suka dibentak, dan sebagainya. 

Abuser akan meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya. Beberapa abuser bahkan akan berubah menjadi pasangan paling sempurna di dunia dengan berubah menjadi yang paling supportive, manis dan memperlakukanmu seperti putri. Suasana hati abuser juga berubah-ubah tanpa alasan yang jelas. Hal seperti ini disebut manipulasi. Cara bersikap abuser yang sedemikian rupa akan membuat korban bingung. Rasanya seperti berpacaran dengan dua orang yang berbeda. Korban bahkan akan menyangkal kalau apa yang dilakukan pasangannya itu sama sekali tidak benar. 

Karena lebih mudah untuk menyangkal kalau orang yang kita cintai menyakiti kita. Lebih nyaman untuk berpura-pura segalanya baik-baik saja. Malu mengakui kalau aku membiarkan dia menyakitiku sejauh ini, seolah aku tidak memilik kendali atas hidupku sendiri. Tidak mudah menerima kalau selama ini aku di bawah awan hitam.

Sebuah hubungan tidak seharusnya diselimuti rasa takut. Seseorang seharusnya merasa aman dan nyaman ketika berbicara dengan pasangannya. Setiap orang berhak menyayangi dan disayangi. Tetapi tidak seorang pun berhak mengatakan orang lain adalah sebuah beban apalagi tidak layak diperjuangkan. Tidak seorang pun berhak mendapatkan kekerasan dengan alasan "untuk kebaikan kamu juga." atau "supaya kamu kuat." karena tidak ada hal semacam itu. Love is not a reason to tolerate disrespect.

Dengan adanya manipulasi, korban pun akan merasa terisolasi. Mereka bingung dan bahkan tidak memahami apa yang terjadi. Mereka tidak bisa bercerita apalagi meminta saran dari orang lain bahkan orang-orang yang mereka percaya karena ya bagaimana bisa menceritakan apalagi menjelaskan sesuatu yang para korban sendiri tidak paham? 

"Ini semua salah kamu kenapa memilih pergi ke sana." "Resiko kamu kenapa milih jauh dari aku." "Putus aja, buat apa aku buang-buang waktu sama orang kayak kamu." "Ga ada jaminan kamu jodoh aku, kan? Udahan aja. Buang-buang waktu." 

Ketika korban berusaha membela diri, para abuser akan menyerang karakter korban. Entah itu masa lalu mereka, mimpi mereka, bahkan beberapa menggunakan keputusan hidupmu menjadi sebuah serangan. Tidak hanya itu, abuser pun akan menggunakan ancaman untuk meninggalkan kamu, hal yang bagi para korban paling ditakutkan. Beberapa akan memohon pasangannya untuk tidak pergi. Hal ini yang diinginkan abuser, memiliki kuasa untuk mengontrol dan merasa superior. 

Para abuser juga suka drama. Hal yang tidak seharusnya dipermasalahkan menjadi sebuah masalah besar. Hal-hal yang belum terjadi pun menjadi masalah besar. Menjadikan korban pusat dari masalah sehingga mereka merasa bersalah dan terus menerus meminta maaf ketika sebenarnya tidak ada yang salah. 

Siklus kontinuitas ini membuat para korban membenarkan segala yang para abuser katakan, "mungkin aku memang beban.", "aku memang hanya buang-buang waktu.", "aku tidak layak diperjuangkan.". Ini adalah ciri jika para korban telah kehilangan harga diri mereka. Korban mulai merasa tidak berguna bahkan yang paling parah, mereka lelah dengan segalanya. 

Mungkin dia tidak memukulmu, tapi jika harga untuk mempertahankan seseorang adalah kesehatan mentalmu, menurutku itu terlalu mahal dan tidak layak sama sekali. Apakah kamu mau menjalani hidupmu dengan pasangan yang membuatmu cemas berlebihan dan takut terus-menerus? 

Jika seseorang memang peduli, menyayangi dan mencintaimu dengan tulus, mereka akan mengubah sikap dan perkataan buruk dan kasar mereka di kali pertama kamu meminta. Jika mereka tetap bersikap seperti itu, memanipulasi dengan menggunakan perasaanmu, mereka tidak benar-benar peduli, bahkan tidak menyayangi dan mencintaimu. Permintaan maaf terbaik bukan hanya perkataan, tapi adanya perubahan baik untuk kebaikan bersama. 

Tidak ada seorang pun berhak mendapatkan kekerasan dalam bentuk apapun; emosional, fisik, maupun seksual. Tidak ada seorang pun yang memiliki hak untuk melakukan kekerasan dalam bentuk apapun kepada orang lain. Tidak ada alasan untuk membenarkan sebuah kekerasan. Tidak ada alasan untuk seseorang melakukan kekerasan pada orang lain. 

Dari pengalaman, kalau kamu mengalami kekerasan dalam bentuk apapun, talk to someone you trust. Dengan bilang pada seseorang, orang tersebut akan membantu kamu untuk berpikir lebih logis dan membantumu untuk mengambil keputusan. Tidak ada kata terlambat untuk memperjuangkan diri sendiri. 

To all my fellow emotional abuse victims, please remember that you are not those horrible words. You are strong. You are important. You are enough. You are a victory. 


Sumber: 

Healing from Hidden Abuse - Shannon Thomas 
When is it Emotional Abuse? - Psychology Today
Why Does He Do That? - Lundy Bancroft 



Love, Vera
Share:

No comments

Post a Comment

Blogger Template Created by pipdig