Monday, November 26, 2018

MENGECUP LUKA

William Ricketts Sanctuary, Victoria.


"Anak sulung yang kami besarkan oleh cinta tidak akan kalah dengan hal yang bukan cinta. Terkadang memang terlihat tidak mudah tapi bukan berarti tidak mungkin. Diri sendiri suka membuat kejutan, yang dikira tidak bisa justru melampaui ekspektasi. Intinya percaya pada diri sendiri, bahkan ketika kamu tidak bisa." - DS. 

Ketika ada yang bertanya "bagaimana perasaanmu?" atau pertanyaan paling umum sekalipun, "apa kabar?" kebanyakan dari korban kekerasan emosional akan menjawab "aku baik-baik saja." dan tentu, itu sebuah kebohongan besar. 

Mungkin, inilah caraku menjelaskan keadaan yang sebenarnya setelah mengalami kekerasan emosional. 

Seperti naik rollercoaster. Ada hari di mana aku sangat bersemangat menjalani hari-hariku, mengejar mimpiku, bahkan aku bisa bilang dengan yakin kalau aku sangat bersyukur sudah berpisah dengan dia, aku bisa bersenang-senang dengan teman-temanku, aku siap membuka pintu-pintu kesempatan. Tapi, ada juga hari yang bahkan untuk bangun dari tempat tidur saja aku tidak sanggup. Teriakan, bentakan, kata dan kalimat yang mengiris hati itu terngiang, bahkan aku bisa mendengar suaranya. Ya, suara teriakannya. Jantungku berdegup kencang, kepala dan telingaku sakit, dan aku hanya bisa menangis, berusaha untuk bernapas karena rasanya seperti ada yang mencekik leherku. 

Bagi sebagian orang, mungkin lebih buruk atau mungkin tidak separah itu. Jika orang lain tahu, akan ada yang menghakimi "ya ampun, berlebihan sekali. Masa sampai segitunya?" karena mereka tidak tahu. Mereka tidak bisa memahami perasaan survivors, jangan merasa sedih dan kecewa ketika orang lain bereaksi jauh dari harapan. Ingat, mereka hanya bisa membayangkan. They didn't understand how it feels like

Itulah kenapa hanya kamu yang bisa menolong dirimu sendiri. 

Aku bukan psikolog, bukan ahli dalam bidang ini, apa yang aku tulis disini berdasarkan hasil belajar dari pengalamanku saja. I want to share because I think it's important regardless people read it or not, at least, for the sake of my recovery process, I write and it helps.

Sebelum menjelaskan proses recovery atau pemulihan, kenali akibat dari kekerasan emosional itu sendiri. Efeknya terbagi dua, jangka pendek dan panjang. Efek jangka pendek biasanya terjadi tepat setelah kekerasan emosional terjadi atau setelah memutuskan untuk berpisah dari abuser, seperti bingung dengan segala yang terjadi, sulit berkonsentrasi, sering memiliki mimpi buruk, malu karena mengakui adanya ketidakmampuan untuk melindungi diri sendiri dan membiarkan abuser melakukan kekerasan, juga takut pada abuser dan bahkan pada orang lain. 

Sementara efek jangka panjang pasca kekerasan (emosional, seksual, dan fisik) adalah insomnia, kecemasan berlebihan (anxiety), perubahan nafsu makan (bisa hilangnya nafsu makan atau menjadi berlebihan), sakit kepala, berhenti menstruasi (bagi perempuan), depresi, PTSD (post-traumatic stress disorders). PTSD yang dialami oleh survivor akan berbeda-beda. Ada yang mengisolasi diri sendiri karena tidak mampu bersosialisasi, ada yang secara tiba-tiba sering mendengar suara teriakan, bentakan, atau kata kalimat kasar abuser (reliving the trauma), ada yang menjadi paranoid, dsb.

Aku tidak mau selamanya hidup melawan monster di kepalaku!

Pulih dari sesuatu yang membuat trauma tidak mudah namun bukan berarti tidak mungkin. Untuk bisa pulih tentu saja butuh proses yang juga memakan waktu, tenaga, dan mungkin membutuhkan uang. Personally, I don't care of whatever it takes, I just want to be myself again.

Fase pertama yaitu menyadari segalanya. Dalam fase ini, yang bisa dilakukan untuk bisa pulih dari pengalaman buruk itu adalah berbicara pada seseorang yang dipercaya. Ketika memilih orang yang bisa aku ceritakan, aku bukan hanya percaya pada orang ini tapi aku nyaman, merasa aman, dan aku tahu dia tidak akan pernah menghakimiku. Ceritakan segalanya jika kamu siap. Mungkin mereka tidak bisa membantu menyelesaikan permasalahan tapi dengan meluapkan emosi dengan bercerita, menangis, dan mungkin mendapat pelukan hangat dari sahabat, aku merasa lebih baik. It feels like lifting up my weight.


"You are beautiful human being. You are kind. You are important. And most importantly you are worth to fight." - one blue light.

Kemudian perasaan akan jauh lebih baik dari hari-hari gelap sebelumnya. Pagi berubah lebih cerah, dan mulai ada semangat dan keinginan untuk menjadi lebih baik lagi. Fase kedua ini disebut learning. Ayahku pernah bilang, untuk bisa lepas dari takut kamu harus belajar memahami rasa takut itu sendiri. So, belajar adalah langkah selanjutnya yang aku lakukan. Mulai dari menonton video YouTube, mendengarkan podcast, membaca artikel dan buku tentang emotional abuse, membaca cerita-cerita survivor yang lain. 


"Apa yang dia bilang itu ga ada yang benar sama sekali. Aku belajar kuat, jadi perempuan yang mau berusaha mengejar mimpi dari kamu. Aku belajar tentang hidup dari kamu. You are my role model and you are not anyone's burden. You teach me how to love someone. You are my sister and you are one of my worlds." - VS. 

Some days are harder than others. Tiba hari ketika segalanya terasa lebih baik namun teriakan, bentakan, kalimat kasar itu terdengar lagi. Terdengar di telinga, terasa sangat nyata. Untuk sebagian orang, akan berbeda. Mungkin berupa flashbacks. Fase ini disebut reliving trauma yang terjadi karena survivor mengalami PTSD. For me, this is a dark stage. Rasanya seperti jalan buntu, aku tidak tahu harus ke mana. It feels like a hell. Saat ini, aku masih ada di tahap ketiga ini, semoga saja fase ini cepat berlalu. Caraku untuk bertahan adalah tetap dekat dengan keluarga terutama orang tua, adik dan kakakku, dan juga sahabat-sahabatku. Aku bilang pada orang-orang yang selalu membuatku nyaman ini kalau aku mendengar teriakan di telinga karena kalau memendam sendiri lagi, it hurts me more.

"Yang paling penting sekarang adalah yang bikin nyaman dan bahagia buat kamu. Aku ga tahu gimana rasanya, tapi aku kenal kamu. Kamu perempuan yang kuat. Dia hanya satu orang, satu suara. Jangan sampai dia mengubah hidup yang kamu usahakan jadi berantakan." - CPH.

Jujur, ini memengaruhi kehidupanku sehari-hari. Nafsu makan yang terkadang berlebihan dan bahkan nyaris tidak ada sama sekali, insomnia yang seringkali berujung tidak tidur. Seringnya aku mendengar teriakan. Bagaimana ketika aku sedang di tempat kerja, lalu tiba-tiba terdengar kata-kata kasar itu di telinga? Atau ketika aku sedang di bioskop, menonton film yang sudah aku tunggu-tunggu sejak lama? Bahkan ketika aku sedang bercanda dengan sahabatku, tertawa puas lalu tiba-tiba tenggorokanku rasanya seperti dicekik karena suara itu terdengar begitu saja di telinga padahal orangnya tidak ada? Yes, I feel like I'm a crazy person but I'm not. It's a trauma and it feels like shit

"Kamu itu kuat, lebih dari yang kamu bayangkan. Kamu belum tahu aja kalau kamu kuat. You just need to find that strong girl, Babe. I know you're tired but keep going. You can do this." - RS. 

Tetapi aku tidak menyerah. Tidak adil jika aku menyerah pada trauma padahal masa depan menungguku dengan tangan terbuka. Here I am, writing as if everything is fine. 

Fase selanjutnya yang hopefully akan segera kulalui adalah kebebasan. Bebas dan ikhlas pada segala yang telah terjadi. Mengikhlaskan diri sendiri bahwa kamu bukanlah orang yang sama seperti beberapa bulan lalu, bahkan tahun lalu. Membebaskan diri dari segala racun yang membuat hidup menjadi gelap. Membiarkan diri untuk segera mengepakkan sayap dan meninggalkan segala yang sudah sepantasnya ditinggalkan. Menyambut hidup baru setelah tenggelam dalam lara. Aku belum bisa menjelaskan bagaimana rasanya, tapi aku yakin fase ini fase yang ditunggu oleh semua survivors

"Kamu memiliki semua kebahagiaan di dunia di dalam hatimu." - BH. 

Recovery is about accepting have no control of what already happened. It is about accepting that you were traumatized. When it was seriously horrible and wrong, I survived. If I can survived, you can too.


Love, Vera


Sumber: 

Healing from Hidden Abuse - Shannon Thomas
Why Does He Do That? - Lundy Bancroft 
Share:

No comments

Post a Comment

Blogger Template Created by pipdig