Tuesday, August 07, 2018

SUATU SORE DENGAN AYAH


Your brain records everything you see, hear and feel. 
You just need to find a way to remember it. 


Entah tanggal berapa, kira-kira satu tahun lalu di bulan September, aku mengeluh pada Papih tentang quarter life crisis yang sedang aku alami - seolah tidak berujung! Memang sejak kecil, aku selalu bercerita pada kedua orang tuaku tentang apapun, mulai dari sekolah sampai urusan percintaan. Sebagian orang mungkin segan atau malu cerita pada orang tua, aku justru lebih nyaman bercerita pada mereka. Mereka pun memberi respon yang mudah aku pahami dan tidak jarang membuatku lebih bijak untuk mengambil keputusan. 

"Teteh capek, Pih. Gagal dan sakit hati terus." 

Kalimat itu yang keluar dari mulutku. Saat itu kami sedang berada di dalam mobil, terjebak macet di perempatan Pasteur, Bandung, seperti biasa. Aku memandangi awan putih yang terlihat jelas dari jendela mobil, Papih sedang meminum kopi yang kami beli lewat drive-thru Starbucks. 

"Kita gagal bukan berarti kita tidak pantas mendapatkannya, Teh. Belum waktunya, sabar." 

Aku menyeka air mataku. Saat itu suasana hatiku sedang benar-benar kacau, lelah dengan tugas-tugas kuliah dan sedikit stress menjelang keberangkatanku ke Australia (dan hari ini aku mengetik di kamar tidur yang sudah kutempati selama 6 bulan di Australia!)

"Ya tapi sampai kapan sabarnya? Teteh udah berusaha, berdoa. I did everything that humanly possible, Pih." 

Papih mengelus kepalaku, membuatku menoleh ke arahnya. Since I was a little girl, aku tidak suka menangis di depan orang tuaku. Tapi kali itu, I was so stressed and depressed, I couldn't handle it anymore

"Saat Teteh ikhlas dan yakin kalau rencana Allah seribu kali lebih baik, kebahagiaan Teteh akan datang. Mungkin satu-satu, mungkin bersamaan, yang pasti jauh lebih baik dari harapan Teteh."

Aku hanya bisa mengangguk. 

"Teteh udah berusaha dan berdoa, itu udah lebih dari cukup, Teh. Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Allah udah menyiapkan hadiah-hadiah atas usaha Teteh. Belum datang berarti hadiahnya jauh lebih baik dari yang sudah datang." 

Lagi, aku hanya mengangguk. 

"Teteh itu dibesarkan oleh Papih dan Mamih dengan cinta. Apa yang Papih dan Mamih berikan itu semua ridho dari Allah, artinya Allah mencintai Teteh lebih dari orang tua Teteh. Anggap ini tantangan yang harus dilalui supaya Teteh bisa lebih bersyukur dan menghargai masa sulit setelah mendapat kebahagiaan." 

Tangisku pecah dan Papih membiarkanku menangis sesunggukan. Kepala dan dadaku saat itu sakit sekali. Tangis yang keluar bukan hanya karena aku meratapi fase hidupku saat itu, tapi karena aku menyesal telah bersikap terlalu keras pada diri sendiri. I was too harsh to myself and it's not okay. 

Setiap obrolan dengan kedua orang tuaku masih terekam di memori. Di saat seperti ini, when my world falls apart dan yang aku butuhkan adalah Papih yang mengelus kepalaku dan Mamih yang siap sedia memelukku, kilasan percakapan-percakapan itu muncul seperti slideshow. Sebuah pengingat dan penyemangat untuk tetap tegar.

Ciptaan Tuhan memang penuh kejutan. 



Love, Vera
Share:

No comments

Post a Comment

Blogger Template Created by pipdig