Saturday, March 24, 2018

LONG-DISTANCE RELATIONSHIP

Setiap mendengar long-distance relationship pasti membuatku bergidik. Pengalamanku dengan LDR itu buruk, tidak berakhir bahagia. Tidak hanya aku, beberapa temanku pun mengalami hal serupa. Tahun ini, aku harus mengalami LDR lagi. Sempat cemas tapi setelah mengobrol panjang lebar dengan kedua orang tuaku, apa yang aku takutkan, apa yang membuatku ragu, cemas dan banyak hal yang membuatku anxious, mereka bilang:


"Setiap hubungan itu, dekat atau jauh, gimana kita yang menjalani. Bukan jarak." 

Aku mungkin termasuk orang-orang yang beruntung karena aku bisa bercerita apa saja dengan kedua orang tuaku termasuk love-life. Lagipula tidak ada alasan untuk tidak bercerita pada mereka, toh Petra meminta ijin langsung pada mereka untuk berpacaran denganku, tidak ada tuh kalimat "mau jadi pacarku, ga?" ga ada kata jadian haha. Jadi, ketika dihadapkan pada tahun depan berangkat ke Australia, hampir setiap malam aku dan orang tua mengobrol selepas makan malam, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa everything is going to be okay

Tidak hanya dengan orang tua, aku juga banyak mengobrol dan lebih terbuka dengan Petra. Mungkin karena pada awalnya kami ini bersahabat dan bukan baru setahun - dua tahun, sejak hari pertama upgrade menjadi pacar, kami sangat terbuka satu sama lain. Ia pun merasakan hal yang sama. Bukan tidak yakin pada satu sama lain, kami justru takut pada rindu. Bagaimana bisa menahan rindu padahal masih tinggal satu kota saja sudah berat tidak bertemu setiap hari, lah ini tidak akan bertemu selama satu tahun, berbeda benua. 

Setelah dijalani, ternyata kecemasan itu hanya ada di kepala. Ternyata orang tuaku benar, setiap hubungan itu bagaimana kita yang menjalaninya bukan jarak. Selama hampir tiga bulan menjalani LDR, aku banyak belajar bagaimana untuk tetap merasa dekat dengan Petra walaupun sebenarnya jarak kami 5.500 km...


Jarak: tantangan untuk melihat seberapa jauh cinta melakukan perjalanan

Pertama, usaha. Dalam sebuah komitmen, tidak lagi aku dan kamu, tapi kita. It takes two sides to build a bridge. Misalnya tidur lebih malam supaya bisa video call atau menyempatkan telepon di sela-sela jam makan siang atau cepat pulang setelah kerja karena ada kencan di video call. Sebelum berangkat ke Australia, aku membuat little notes yang aku masukkan ke dalam Mason jar. Isinya kalimat-kalimat yang mengungkapkan perasaanku, rekomendasi film dan musik, pertanyaan-pertanyaan dan banyak lagi. Those simple things that remind him of me. Kami melakukan apapun yang membuat kita tetap merasa dekat.


Distance demands more work and effort but when the person matters, nothing is a big deal. 

Selanjutnya, komunikasi. Sempatkan untuk berkomunikasi walaupun berbeda zona waktu dan berterima kasihlah pada teknologi! Selain memanfaatkan teknologi, dalam berkomunikasi pun sebaiknya sejelas dan semaksimal mungkin untuk menghindari kecurigaan dan salah paham. Hal yang aku pelajari dari hubungan sebelumnya, komunikasi sejujur dan sebaik mungkin itu perlu dan harus. Bahkan walaupun berdekatan, komunikasi memegang peranan penting dalam hubungan.

Komunikasi yang baik itu dua arah. Walaupun Petra tipikal pendengar, tapi Ia sedikit demi sedikit belajar untuk lebih terbuka juga karena aku pun harus belajar untuk menjadi pendengar yang baik seperti dia. Dalam berkomunikasi juga harus tetap mengutamakan kejujuran. 

Also, jangan remehkan 'selamat pagi', 'selamat tidur', 'sudah makan?' atau 'semangat!' support sekecil apapun sangat berarti. Terlebih ketika harus menata hati, pikiran dan beradaptasi di saat yang bersamaan. 

Ketiga, pengertian. Kenapa? Karena yang beradaptasi bukan hanya orang yang meninggalkan tapi juga yang ditinggalkan. Merasa kehilangan, merasa sendirian, merasa waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Those are normal feelings. Sebagai seorang partner emosional, kami sama-sama berusaha untuk lebih pengertian. Ketika salah satu sedang merasa sendirian, yang lain berusaha semampu semaksimal mungkin untuk menenangkan dan menguatkan. It takes time, a lot of courage and patience to be more understanding but it's definitely worth to try. 

Hubungan yang baik diawali dengan kenyamanan, kepercayaan dan kejujuran. Ketiga hal ini yang akan diuji ketika berjauhan. Bahkan ketika tetap tinggal di satu kota pun aku rasa ketiga hal ini menjadi fondasi sebuah komitmen. 

Untuk apa kita menghabiskan waktu dengan seseorang yang tidak membuat kita nyaman bersamanya? tidak nyaman ketika menjadi diri sendiri? Apa dasar sebuah hubungan? Percaya. Bagaimana jika sudah tidak percaya? Mungkin hubungan ini tidak tepat untukmu. Bagaimana dengan nilai kejujuran? The most important. Butuh waktu lama untuk seseorang bisa percaya pada orang lain jangan sampai dirusak dengan hilangnya kejujuran. The worst thing about being lied is knowing you're not worth the truth


Hindari bersikap egois. Rasa egois timbul ketika merasa 'aku yang tinggal sendirian disini' sehingga ingin diperhatikan lebih, aku rasa itu tidak bijak. Benar, aku disini tinggal sendirian tapi bukan berarti aku menjadi center of the relationship, atau egois ketika menyalahkan yang 'pergi'. Hanya karena aku yang pergi, bukan berarti aku yang salah dan berjuang sendirian. Inti atom dari sebuah komitmen adalah kita. 


Masih sejalan dengan poin sebelumnya, yang keempat adalah sabar. Dulu, aku pikir sabar itu menunggu sampai selesai. Namun sekarang, setelah emotionally connected to someone that truly loves me, sejauh pemahamanku sampai saat ini, sabar itu bukan menunggu.

Sabar itu menahan suara pemarah dalam kepala, suara pembenci yang inginnya berteriak dan menyalahkan orang lain. Sabar itu menelan suara gelap tadi menjadi doa. Sabar itu percaya rencana Tuhan lebih indah dari yang kita harapkan. Sabar itu tetap melangkah bahkan ketika kaki sudah ingin berhenti. Sabar itu menghargai proses, sesuatu yang baik tidak terjadi dalam sekejap. 


Jarak membuatku memahami bagaimana ketulusan renjana membuatku kuat.

Terakhir, stay the same. Tidak ada yang berubah, hanya jarak dan seharusnya komitmen tidak dikalahkan oleh jarak. Distance is just numbers dan yang penting itu bagaimana kita menyikapi jarak bukan kita yang diatur oleh jarak. Jarak tidak menjamin sebuah hubungan kuat, mau itu jauh atau dekat, kalau tidak tulus, tidak akan bertahan bukan? Jadi bukan tergantung jaraknya tapi kita yang menjalaninya, perasaannya, ketulusannya dan intensinya.

Tuhan menjanjikan hadiah terindah bagi orang-orang yang bersabar, bukan? Proses pun tidak pernah mengkhianati hasil. Mungkin jarak itu ujian dan percayalah untuk bisa lulus bersama. Mungkin jauh mengajarkan kita untuk lebih memahami arti nilai rindu.


"It isn’t easy being so in love with you and not being able to see you every day. There are times when I’d give anything just to be able to be in your hug even for a few minutes. I know that right now this is how things have to be, but it’s not easy to bear. When times get hard, I replay the first night you told me you love me. Being with you, it feels different, it feels real, it feels right. I’m the luckiest girl on earth, I have a man who loves me through fears, trusts me through distance. It is a precious privilege to be loved without reserve or judgement. I feel stronger and braver everyday. You bring out my best self. You are the answer of my prayers." -- a little note I wrote for him on his birthday. 

Good luck!  
Share:

No comments

Post a Comment

Blogger Template Created by pipdig