Saturday, September 30, 2017

MOVIE | PENGABDI SETAN (2017)

*written in Indonesian


Hai! Hari ini aku akan review film pakai bahasa Indonesia karena film yang akan aku review juga film hasil karya salah satu sineas Indonesia, Joko Anwar. Bercerita sedikit, jujur aku tidak lagi sesering dulu menonton film tanah air karena kebanyakan film-film yang tayang di bioskop itu mengandung hal-hal vulgar, sangat tidak masuk akal dan jatuhnya jadi norak. Misalnya, suster keramas? terus kenapa?

Joko Anwar adalah salah satu sutradara favoritku, karena film-filmnya itu bikin penonton ikut berpikir, ceritanya selalu unik dan tekniknya selalu berkesan. Itulah kenapa aku memberanikan diri nonton film Pengabdi Setan yang merupakan hasil remake versi 1980-an. Pssttt... aku bukan orang yang suka nonton film horor, apalagi horor Indonesia karena setannya sangat menyeramkan.

Omong-omong, review ini aman buat yang belum nonton karena no spoiler ;) 

Pengabdi Setan. Dari judulnya saja sudah ketebak kan inti ceritanya seperti apa? Aku belum pernah nonton yang versi '80-an, dan menurutku, dari segi cerita, film versi Joko Anwar ini tidak serumit film-film beliau yang sebelumnya. Plot twist yang cukup mencengangkan tapi sebenarnya kalau kita betul-betul memahami ceritanya, kita sudah bisa menebak sih, bahkan sebenarnya ceritanya sangat mudah dipahami. Sejak awal, kita sudah diperlihatkan filmnya mengarah kemana, siapa yang menjadi kunci dari ceritanya dan siapa yang bakalan jadi korban dan bagaimana penyelesaian dari masalah di cerita ini. Beberapa bagian ada yang cheesy menurutku, kayaknya berlebihan malahan.

Walaupun film ini punya cerita yang ringan, tapi setan-setannya yang bikin mau pingsan! Ya ampun, 2 jam nonton film ini rasanya kaya dihantui selama bertahun-tahun. Ok, berlebihan. Aku rasa, semua orang yang menonton bisa setuju denganku kalau ini salah satu film horor Indonesia yang paling menyeramkan. Seisi bioskop tidak ada tuh yang tidak teriak. Bahkan cowok-cowok yang duduk dibelakangku, bapak-bapak, semua orang teriak. Keluar bioskop, kita semua berwajah pucat. Aku bahkan langsung beli minuman manis karena kepala pusing dan dada berdebar kayak mau pingsan. Ampun deh!

Aku tidak akan bahas ceritanya, bahkan tidak akan menulis sinopsisnya karena dari trailer-nya saja kalian sudah tahu kok filmnya itu tentang apa. Kalau yang belum nonton, justru jangan menonton trailer-nya deh supaya surprise. Aku belum pernah nonton trailer-nya karena tidak berani. Payah kan? Tapi waktu tahu Joko Anwar yang menggarap, I was like, dude I really need to see this movie no matter what!

Terus apa yang bikin kita ingin tetap nonton?

On my perspective, cara Joko Anwar menyuguhkan cerita ke dalam sebuah tayangan layar lebar yang bikin penonton ingin terus duduk di kuis bioskop, padahal baru 15 menit pertama saja rasanya sudah ingin kabur. Serius, ini mungkin film horor Indonesia yang bikin aku ketakutan setengah mati, 1/4 film dihabiskan dengan tutup mata. Well, mungkin lebih lama dari itu. Jadi, cara Joko Anwar memberi kita cerita itu sangat unik. Kalau kamu pernah nonton film-film horor / thriller garapan beliau sebelumnya seperti Kala (2007), Pintu Terlarang (2009), dan Modus Anomali (2012), kamu pasti tahu maksudku apa. Tidak seperti sutradara Indonesia kebanyakan, Joko Anwar senang sekali membuat penonton berpikir saat menonton dan seringkali, dugaan penonton itu salah karena ternyata kita melewatkan garis besarnya. Plot twist ini yang bikin kita, sebagai penonton, betah duduk di kursi bioskop padahal jantung udah berdebar kaya habis lari maraton seharian.

Produksi film ini buatku patut diacungi jempol, bahkan deserve an Oscar. Hebat banget! Mulai dari teknik kamera - man, sepanjang film (walaupun sibuk jejeritan dan tutup mata) susah banget berhenti mengagumi tekniknya, bahkan bikin adikku, Vena, annoyed karena aku terus-terusan ngomong "na ini teknik kameranya keren banget!". Tidak hanya menggunakan wide angle, film ini menggunakan upside-down, close-up, half close-up, dan beberapa bagian bahkan membuat kita yakin kalau bakalan ada setan muncul di layar, yang bikin penasaran tapi tidak tahan nontonnya, semuanya dibidik secara rapi. Jujur, beberapa bagian mengingatkanku pada teknik kamera James Wan (Insidious, The Conjuring) dan tidak bermaksud komplain, justru aku suka sekali teknik-teknik kamera yang tidak monoton seperti ini.

Selain sinematografinya yang apik dan menambah makna dalam penyuguhan cerita, pengaturan musik dan efek suara dalam film ini juga tidak murahan. Maksudku, jumpscare yang ada dalam film ini bukan sekedar bikin kita kaget dan menambah keangkeran selama menonton film, tapi justru dalam beberapa adegan dengan efek suara yang memekakan telinga itu tidak ada setannya sama sekali. Setan muncul di waktu dan tempat yang least expected. Jadi dengan teknik kamera sedemikian rupa dan dikombinasikan dengan efek suara, cerita yang awalnya terasa sederhana malah jadi sangat rumit dan membuat kita berpikir, "ada apa ini?". Dalam film ini, Joko Anwar juga tidak mengandalkan CGI tapi bertumpu pada makeup, kostum, dan produksi lainnya.

Dari segi casting, sejauh ini Joko Anwar tidak pernah salah pilih aktor dan aktris dalam film-filmnya. Hampir semua karakter dalam film Pengabdi Setan ini berkesan karena aktor-aktornya tahu betul karakter mereka seperti apa, apa cerita mereka dan apa yang kita lihat di film itu sangat natural. Dengan latar tahun 1981, penggunaan bahasa yang masih sangat baku bahkan anak kecil sekalipun, aku rasa fine dan mungkin memang seperti itu adanya pada tahun segitu. Mostly, karakter di film ini mudah kita sukai. Jujur, aku kurang bersimpati pada karakter utama, Rini, aku justru lebih suka dengan karakter Toni dan Bapak. Mungkin karena film ini dilihat dari sudut pandang Rini jadi aku kurang penasaran dengan karakternya.

Kalau pernah baca review-ku, tahu kan aku suka sekali ngobrolin movie production karena buatku, ini elemen yang sangat penting buat sebuah film, mau itu film pendek, tv movie, tv series bahkan layar lebar. Apapun itu, kalau produksinya asal-asalan, aku bisa jadi malas banget nontonnya. Aku sangat-sangat mengapresiasi sutradara yang take his time untuk benar-benar membuat sebuah mahakarya. Sebagai penikmat film, kalau ceritanya mudah ditebak tapi produksi filmnya apik, aktingnya keren, film itu bisa menjadi sesuatu yang sangat hebat ketimbang film yang sebenarnya punya cerita unik tapi produksinya asal-asalan karena mengejar keuntungan semata.

Overall, aku sangat bangga dan lega, akhirnya ada juga yang menggebrak dunia film Indonesia, khususnya di genre horor. Semoga film-film Indonesia semakin berkembang lebih baik lagi ke depannya. Film Pengabdi Setan ini patut untuk ditonton! Standing applause for Joko Anwar and his team!

Kalau kamu sudah menonton filmnya, gimana menurutmu? Terima kasih sudah membaca! 
Share:

2 comments

  1. kaaaaa, blog nya keren banget! akhirnya ada yang pake b indonesia jadi aku bisa komen hehe. selalu suka baca blognya, walaupun kebanyakan pake bahasa inggris tapi gampang dan enak banget dibaca!

    maaf ya anonim, aku malu hehehe. btw aku follower ig kaka. ignya keren banget. Kaka keren banget deh pokoknya

    ReplyDelete
  2. hai. wah terima kasih banyak dear! next time ga usah anon yaaa xx

    ReplyDelete

Blogger Template Created by pipdig